Dari pagi yang menciptakan sunyi
Melangkah kaki menyimpan resah
Tak ada nyanyian hati
Tak ada godaan manja
Diam terpaku beku
Suara hati berbisik lirih,
"aku merindukanmu lagi"
Ini pagi siapa?
Pagiku?
Pagimu?
Atau pagi kita?
Di sini aku bertanya,
apa ini semua hanya ilusi semata?
Ini cerita, tentang rasa, tentang tawa, tentang suka, tentang duka, tentang gundah, tentang resah, tentang amarah, dan tentang apa saja tentang cinta yang kami tuang dalam goresan tinta. Karena cinta, aku dan kamu ada.
Rabu, 20 November 2013
Selasa, 05 November 2013
Mendusabo
Sejenak ku termenung
Tertegun melirik awan mengawangPikirku jauh melayang
menyentuh sisi tak terpegang
hingga meregang
Tepi hujan mulai turun
seiring jatuhnya sang daun
Debupun mengikut raun
bersama belaian lembut angin tenun
Namun kusadari
semua ini hanya imaji
di balik pikiran-pikiran yang tak pasti
Aku menyeruak pergi
Bersamamu ku pergi
dengan hati yang selalu di sini
Senjasidem
Langit senja hampir menyentuh nurani
Seringai tawa mengendap warnai hari
Buih samudera ramai bernyanyi
Di atas pasir kita bersemi
Mentari mulai bersembunyi
Menyerahkan waktu untuk kita sendiri
Memandang cakrawala dalam untaian sunyi
Kau dan aku berbalas senyum hati
Genggam aku dalam keadaan ini
Rimbun awan perlahan tenang
Berkejaran namun tetap riang
Di sini kita berjanji
Selalu menggenggam hati
dalam segala situasi
Dengan kenyakinan diri
Ku isi sela jemarimu
dengan jemariku
Biar mereka bercumbu
Menikmati hari yang hampir lalu
Tujuh, bukan sekedar angka palsu
Yang telah kita tapaki satu demi satu
Jejak kita di pasir ini
Pasti terkikis butiran buih
Namun cerita kita
Biar langit yang berkata
Tentang apapun yang telah kita tapaki
dengan apapun yang kita miliki
Berjalan bersama
Meniti waktu berdua
Menyisihkan kelam gulita
Kau dan aku bersama
Seringai tawa mengendap warnai hari
Buih samudera ramai bernyanyi
Di atas pasir kita bersemi
Mentari mulai bersembunyi
Menyerahkan waktu untuk kita sendiri
Memandang cakrawala dalam untaian sunyi
Kau dan aku berbalas senyum hati
Genggam aku dalam keadaan ini
Rimbun awan perlahan tenang
Berkejaran namun tetap riang
Di sini kita berjanji
Selalu menggenggam hati
dalam segala situasi
Dengan kenyakinan diri
Ku isi sela jemarimu
dengan jemariku
Biar mereka bercumbu
Menikmati hari yang hampir lalu
Tujuh, bukan sekedar angka palsu
Yang telah kita tapaki satu demi satu
Jejak kita di pasir ini
Pasti terkikis butiran buih
Namun cerita kita
Biar langit yang berkata
Tentang apapun yang telah kita tapaki
dengan apapun yang kita miliki
Berjalan bersama
Meniti waktu berdua
Menyisihkan kelam gulita
Kau dan aku bersama
Langganan:
Komentar (Atom)